Lainnya

Kisah Boenjamin Setiyawan, Miliarder Pendiri Kalbe Farma

Boenjamin-Setiyawan

Boenjamin Setiyawan/https://ekonomi.bisnis.com/

Brand Kalbe Farma tentu bukan nama yang asing bagi masyarakat Indonesia. Popularitas brand Kalbe Farma sebagai perusahaan farmasi di Indonesia memang sudah begitu tertanam. Dengan bisnis yang sudah begitu besar pada akhirnya membuat pendiri dan pemiliknya yakni Boenjamin Setiyawan telah menjadi orang terkaya nomor 8 di Indonesia.

Status ini ia dapatkan karena berdasarkan catatan Forbes, kekayaan Boenjamin disebutkan telah mencapai angka US$4,1 miliar atau Rp57,7 triliun. Namun siapa tahu kalau ternyata untuk meraih itu semua Boenjamin harus merintis kisah usaha yang begitu berliku? Nah inilah kisah Boenjamin Setiyawan, sang miliarder pendiri Kalbe Farma.

Pernah Gagal Merintis Bisnis

Kisah bermula setelah Boenjamin menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran UI pada tahun 1948. Setelah itu, Boen melanjutkan pendidikan doktoralnya ke Universitas California hingga kemudian dia mengajar di almamaternya setelah lulus.

Di tahun 1961, Boen mencoba mencari pendanaan senilai Rp30 juta kepada pengusaha farmasi yang dikenalnya, Wim Kalona yang merupakan pemilik PT Dupa. Namun sayang proposal Boen ditolak oleh Wim. Alasan Wim menolak proposal Boen adalah karena kalau mau membuat penelitian, harus membuat perusahaan sendiri.

Mendirikan Perusahaan PT Farmindo

Dari sini kemudian Boen mendirikan perusahaan bersama beberapa temannya dengan nama PT Farmindo. Perusahaan ini sendiri kala itu memproduksi salep. Tapi sayang bisnis ini mampu bertahan selama 3 tahun saja. Penyebab mandeknya PT Farmindo adalah karena kurangnya modal dan kesulitan dalam memasarkan produk.

Mendirikan Kalbe Farma

Meski gagal dengan PT Farmindo, Boen tidak menyerah. Kali ini Boen menggandeng saudaranya yang juga dokter, Khouw Lip Keng, Khouw Lip Swan dan Kliouw Lip Bing serta temannya ahli farmakologi bernama Jan Tan. Dengan rekan-rekannya tersebut, Boen mendirikan pabrik obat bernama Kalbe Farma secara patungan.

Meski sudah bernama Kalbe Farma namun perlu diketahui pada awalnya perusahaan ini dibangun di sebuah bengkel milik pasien kakaknya di kawasan Jakarta Utara. Sementara itu produk obat pertama yang dihasilkan yakni Bioplacenton sebagai obat luka luar, khususnya bakar.

Mulai Berbuah Manis

Apa yang diusahakan oleh Boen mulai membuahkan hasil. Ini karena produk farmasi yang dijualnya memiliki harga yang lebih murah dibanding poduk farmasi luar negeri. Keunggulan lain dari produk Kalbe Farma saat itu adalah dirinya yang statusnya sebagai dokter sehingga lebih membuatnya lebih mudah dalam memasarkan produknya.

Dari sini produk Kalbe Farma terus berkembang dan beberapa populer di masyarakat seperti Promag, Komix, Entrostop, Kalpanax, Puyer 16 Bintang Toedjoe, Procold, Mixagrip, Fatigon, Woods, Extra Joss, Bejo Sujamer, Diabetasol dan lain-lainnya.

Kesuksesan mempopulerkan produk-produknya ini membuat Kalbe semakin bertumbuh dan akhirnya menjadi salah satu perusahaan produk kesehatan terbesar di Asia Tenggara. Saat ini nilai kapitalisasi pasar Kalbe Farma telah tembus Rp60,7 triliun dengan mempekerjakan 17 ribu orang.

Krisis Moneter 1998

Jalan Kalbe Farma menuju sukses ini tentu bukannya tanpa rintangan. Sebab di tahun 1998 ketika Indonesia dihantam krisis ekonomi membuat Kalbe Farma sempat limbung. Sebagai produsen obat yang sebagian besar bahan bakunya impor atau harus didatangkan dari luar negeri membuat biaya produksi obat Kalbe Farma naik berlipat-lipat. Ini karena ketika krisis moneter 1998 tersebut nilai tukar rupiah anjlok dari Rp3.000 ke level Rp15 ribu per dolar AS.

Meski harga bahan bakunya melejit dan biaya produksi menjadi naik berlipat-lipat, Kalbe Farma tetap dituntut untuk tidak menaikkan harga obat. Masalah lain yang dihadapi Kalbe Farma saat krisis moneter adalah kenaikan jumlah utang akibat merosotnya nilai tukar rupiah, penurunan harga saham dan laba bersih

Meski mengalami keadaan yang sulit, para kreditur minta utang tetap dibayar. Atas masalah itulah kemudian Kalbe akhirnya mengundang 35 bank untuk meminta restrukturisasi utang. Untungnya apa yang dilakukan Kalbe berbuah manis hingga bank menyetujui permohonan restrukturisasi utang yang diminta Kalbe. Dari sini Kalbe Farma pun lolos dari tekanan krisis dan tumbuh besar seperti sekarang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang Menarik di Bulan Ini

To Top
×