Lainnya

Kisah Sepak Terjang Bisnis Otto Sugiri Hingga Masuk Daftar Orang Terkaya RI Versi Forbes

otto-sugiri

Otto Sugiri/https://finance.detik.com/

Bagi Otto Sugiri, data adalah sebuah komoditas yang sangat berharga di zaman teknologi sekarang. Pemikiran inilah yang menjadikan dirinya kemudian mampu memanfaatkan keadaan yang ada untuk kemudian meraih pundi-pundi kekayaannya. Otto pun kini merangsek ke jajaran orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2021. Lalu seperti apakah kisah dan sepak terjang bisnis Otto Sugiri? Berikut ceritanya!

Studi di Jerman, Bekerja di Indonesia

Lahir di Bandung tahun 1953, pria bernama lengkap Otto Toto Sugiri mampu meraih gelar sarjana teknik elektro di RWTH Aanchen, Jerman. Meski sudah diberi keleluasaan untuk tinggal dan bekerja di Jerman, Otto memilih kembali ke Indonesia untuk merawat sang Ibunda. Di Indonesia, Otto mengawali pekerjaannya sebagai teknisi piranti lunak di perusahaan minyak. Di waktu yang bersamaan, Otto juga merintis bisnis teknologi startup pengembangan piranti lunak di mana ketika itu masih jarang.

Membangun Sistem Komputer Perbankan

Pada tahun 1983, Otto bergabung ke bank milik keluarganya guna membangun sistem komputer perusahaan. Di sini dirinya dan timnya berhasil menjadikan perusahaan perbankan tersebut menjadi salah satu bank yang mampu melayani transaksi dengan komputer ketika itu. Tapi karena Otto tak betah dengan hierarki perusahaan yang ada, dirinya lantas membangun bisnis sendiri yang bertujuan membantu perusahaan lain berkembang.

Mendirikan Sigma Cipta Caraka

Dari sini Otto kemudian menghadirkan Sigma Cipta Caraka di tahun 1989. Sigma sendiri adalah salah satu perintis industri piranti lunak yang sukses di Indonesia. Berjarak lima tahun setelah kelahiran Sigma, Otto kembali mendirikan Indonet yang merupakan perusahaan penyedia jasa internet pertama di Indonesia.

Tahun 1998 ketika Indonesia diguncang krisis moneter, Otto menyadari dirinya tidak bisa lagi mengandalkan klien lokal. Oleh sebab itu dirinya kemudian mendirikan BaliCamp yang merupakan anak usaha Sigma dan fokus pada pengembangan piranti lunak untuk klien internasional. Apa yang dilakukan Otto terbilang berhasil karena dirinya mampu menggaet sejumlah klien dari luar negeri.

Melirik Bisnis Pusat Data dan Mendirikan PT DCI Indonesia

Pada perjalanan waktu, pria dengan rambut gondrong tersebut mampu melihat peluang dari bisnis pusat data. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital yang berlangsung ketika itu, dirinya menilai bahwa hal tersebut tidak akan terjadi tanpa dukungan infrastruktur yang mumpuni. Menilik kondisi di Indonesia, Otto menilai kapasitas pusat data di Indonesia kala itu masih sangat minim di antara negara tetangga.

Dari latar belakang itulah Otto bersama Marina Budiman dan Han Arming Hanafia pada 18 Juli 2011 mendirikan PT DCI Indonesia yang merupakan perusahaan pusat data Tier IV pertama di Asia Tenggara. Dari bisnis inilah pundi-pundi kekayaan Otto mulai menanjak.

“Indonesia memiliki populasi terbesar di kawasan, tapi menjadi salah satu negara yang memiliki kapasitas pusat data per kapita terendah di dunia,” ujar Otto.

Layanan yang dihadirkan DCI Indonesia sendiri yakni mulai dari data hosting hingga penyimpanan cloud computing. Untuk menumbuhkan DCI Indonesia, perusahaan kemudian menggelontorkan US$210 juta untuk membangun empat pusat data di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Dari sini DCI Indonesia pun telah menguasai setidaknya separuh dari kapasitas pusat data di Indonesia dan bekerja sama dengan Amazon hingga Google.

Meraih Sukses

Di awal bulan Januari 2021, DCI Indonesia melantai di Bursa Efek Indonesia. Melantainya DCI Indonesia di BEI disambut suka cita oleh para pelaku pasar termasuk Salim Grup yang meningkatkan porsi kepemilikan pada perusahaan dari 3 persen menjadi 11 persen. Dari sini harga saham DCII pun sempat melesat ke Rp59 ribu pada Juni 2021 dari harga awal yang hanya Rp525 per saham. Tidak hanya itu Otto sebagai founder-nya juga meraih pencapaian di mana dirinya masuk daftar 50 orang terkaya di RI dengan total harta US$2,5 miliar atau sekitar Rp35,62 triliun Rp (asumsi kurs Rp14.250 per dolar AS).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Yang Menarik di Bulan Ini

To Top