Keuangan

Era Cashless Society, Inilah Saran Terbaik dari Para pakar untuk Finansial Anda

tips-hadapi-era-cashless-society

cashless society/https://www.bobobox.co.id/

Saat ini transaksi non tunai atau cashless dengan dukungan perangkat teknologi semakin digemari masyarakat. Dengan banyaknya tawaran kemudahan dan beberapa keuntungan lain, membuat penggunaan cashless ini menjadi tren tersendiri. Dari sini maka dalam masyarakat pun telah terbentuk kelompok tersendiri (cashless society) yang memang hidupnya selalu mengandalkan pembayaran secara non tunai. Tapi dari era cashless society ini apakah memang tidak ada pantangan yang perlu diantisipasi? Hal ini dikarenakan tidak sedikit dari kelompok masyarakat yang menjadi sangat konsumtif hingga membuat keadaan finansialnya menjadi kacau. Nah untuk menjawab hal tersebut beberapa pakar keuangan menyampaikan pendapatnya di bawah ini.

Perhatikan Isi Saldo E-Wallet

Perencana Keuangan Safir Senduk menyatakan bahwa era transaksi digital ini memang membuat beberapa hal menjadi efisien. Tapi meski demikian Safir menyarankan kepada masyarakat untuk bijak menggunakan e-wallet atau dompet digital. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya pembayaran yang bisa dilakukan melalui e-wallet dapat membuat dompet jebol bila kebablasan. Maka dari itu alangkah lebih baiknya menurut Safir bila pengguna mengisi saldo e-wallet sesuai dengan kebutuhan saja.

“Penggunaan dompet digital ujungnya untuk pembayaran makanan dan transportasi. Mungkin belum banyak orang untuk membayar listrik dan hal lain. Jadi, sebaiknya sisihkan uang untuk kebutuhan makanan dan transportasi saja,” ujar Safir.

Jangan Tergiur dengan Cashback

Salah satu penyebab munculnya era cashless society ini adalah banyaknya penawaran menggiurkan seperti cashback. Penawaran cashback ini memang dapat membuat seseorang jadi tergoda dan akhirnya mengeluarkan uangnya. Tapi menurut Safir, iming-iming cashback ini bisa membuat seseorang semakin konsumtif dan boros. Dan sekali lagi perencana keuangan asal Jakarta ini menyarankan agar pengguna e-wallet atau dompet digital untuk bertransaksi sesuai kebutuhan saja.

“Jadi fokusnya pada belanja bukan ke cashback-nya. Kalau belanja karena cashback, semua pasti menawarkan cashback. Jadi sebaiknya betul-betul fokus apa yang dibutuhkan saja,” kata Safir.

Dahulukan Investasi dan Tabungan

Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari Asad menyatakan bahwa era cashless di Indonesia memang mau tak mau harus diterima publik. Namun demikian Teja menyarankan kepada para pengguna dompet digital agar tetap mendahulukan tabungan dan investasi.

“Selalu tertib setiap bulan untuk investasi atau nabung dahulu. Misalnya gajian sebaiknya langsung dicicil untuk tabungan dan investasi, dan membayar kewajiban,” ucap Teja.

Supaya tidak terpancing dengan tawaran atau iming-iming cashback, Teja mengatakan bahwa pengguna harus bisa membedakan dengan pasti antara rekening untuk memenuhi kebutuhan utama dengan rekening untuk mengisi dompet digital. Karena dari pemahaman ini maka pengguna bisa menyusun anggaran keuangan dengan baik.

“Kita harus membuat budget, misalnya untuk kebutuhan makan dan transportasi Rp1 juta sebulan. Kalau sudah habis ya sudah, tidak bisa ditambahkan lagi,” lanjut Teja.

Hindari Penggunaan Utang dalam Transaksi Cashless

Selain itu Teja juga menyarankan kepada masyarakat untuk menghindari penggunaan utang dalam transaksi cashless. Seperti kita tahu bahwa sudah ada fitur pembayaran berikutnya (paylater) yang ditawarkan oleh beberapa e-wallet. Nah pembayaran dengan paylater inilah yang bisa saja membuat finansial seseorang menjadi kacau karena mereka harus berhutang dan membayarnya di kemudian hari.

Pengelolaan Transaksi Non Tunai

Sementara itu perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto menyatakan bahwa penggunaan transaksi non tunai ini perlu pengelolaan yang sama dengan transaksi tunai. Menurutnya dalam transaksi non tunai ini masyarakat perlu menekankan pada pengelolaannya dan bukan pada produknya.

“Intinya kalau kita mengeluarkan uang harus mengutamakan kebutuhan dan kewajiban dulu baru keinginan. Jadi kewajiban, kebutuhan, baru keinginan,” ujar Eko.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang Menarik di Bulan Ini

To Top