Lainnya

Fenomena Obral Rumah di Menteng dan Pondok Indah, Ada Apa?

rumah-mewah-diobral

rumah mewah diobral/https://finance.detik.com/

Satu pekan yang lalu, dunia properti dihebohkan dengan aksi penjualan rumah di kawasan elit Jakarta yakni Menteng dan Pondok Indah dengan harga jual yang terbilang murah. Menurut beberapa daftar listing iklan di salah satu portal jual beli properti, rumah-rumah tersebut diobral dengan harga 50 persen di bawah harga pasar. Namun meski dijual di bawah harga pasar namun dalam iklan tersebut tidak tertulis atribusi “dijual cepat”, dan BU atau “butuh uang”. Lalu ada apa dibalik fenomena obral rumah di Menteng dan Pondok Indah ini?

Kabar mengenai diobralnya rumah di kawasan elite diobral murah ini ditanggapi oleh Lenny van Es Sinaga selaku Head of Residential Services Colliers Indonesia dengan mengatakan hal tersebut bukan sebuah tren. Lenny pun juga menyangsikan harga properti seken di kawasan elite tersebut bisa terjun bebas hingga 50 persen di bawah harga pasar. Ini karena menurut pengamatannya, harga jual properti seken di Menteng, Kelapa Gading, dan Pondok Indah selama Pandemi Covid-19, masih dalam posisi normal dan wajar.

“Baik itu harga penawaran atau asking price maupun harga transaksi atau transacted price,” ujar Lenny.

Bukan Tren Tapi Kasuistis Saja

Hal senada dinyatakan oleh Arief Rahardjo selaku Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia. Menurut Arief harga rumah seken jatuh hanyalah kasuistis saja.

“Itu yang dikhawatirkan, hanya kasus tertentu saja,” kata Arief.

Meski demikian Arief menyatakan bahwa saat ini yang terjadi bukan terkait harga “diobral” murah dan bukan pula harga merosot drastis. Namun yang terjadi di lapangan yaitu terkoreksinya pertumbuhan harga. Koreksi pertumbuhan harga ini sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kondisi pasokan dan permintaan.

Lenih lanjut Arief memberi gambaran bahwa pertumbuhan properti di lokasi elite apda kurun 2013-2014 bisa mencapai 30 persen hingga 40 persen. Namun sekarang pertumbuhannya hanya lima persen.

“Sekarang pertumbuhan harga hanya lima persen. Ini bukan disebabkan semata oleh pandemi Covid-19, tapi memang kondisi supply dan demand-nya ikut memengaruhi,” jelas Arief.

Menurut riset Colliers Indonesia, pandemi ini memang memicu pelambatan, baik dari pasokan properti dan juga permintaan. Sebagai perbandingan pada pada medio 2016 hingga 2018, permintaan akan unit apartemen masih diangka 5.000 unit hingga 9.000 unit. Nah di tahun pandemi ini kisaran permintaan hanya berada di angka 2.500-an unit saja.

Obral Rumah yang Jarang Terjadi

Menurut Principal ERA Prestige Louis Tirtomoyo Santoso, mengatakan bahwa aksi obral rumah di kawasan elit ini sebenarnya jarang terjadi bila tanpa sebab. Kecuali memang aset yang dijual itu memiliki keadaan tertentu seperti cacat legal, cacat fisik dan berada di lokasi tidak baik. Sementara bila kondisi properti normal, umunnya orang akan menahan asetnya sampai memperoleh angka penjualan terbaik.

“Sebetulnya, jarang terjadi pemilik melepas asetnya dengan harga 30-40 persen atau bahkan sampai 50 persen di bawah harga pasar,” ucap Louis.

Hal atau faktor yang membuat munculnya kejadian rumah yang dioral di kawasan elit ini juga dinilai Lois bukan semata hanya karena efek pandemi.

“Pembeli akan selalu ada. Baik end user maupun investor. Hanya, mereka menunda waktu pembelian. Namun, kami selalu mencatat transaksi sejak Pandemi Covid-19 dimulai hingga saat ini, dengan harga pasar, tentu saja,” tutur Louis.

Lebih lanjut Louis mengatakan bahwa properti tidak seperti barang konsumsi yang dijual di marketplace begitu lihat gambar langsung beli. Ketika muncul permintaan maka terjadi beberapa proses dulu seperti pengupulan informasi, survei dan riset oleh konsumen, penawaran dan lainnya.

“Apalagi jika iklannya BU, rumah dijual murah, konsumen justru akan semakin terpicu untuk lebih kritis,” kata Louis.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang Menarik di Bulan Ini

To Top