Lainnya

Inilah 6 Sektor yang Paling Babak Belur Dihantam Covid-19 Setahun Ini

sektor-terdampak-corona

sektor ekonomi terdampak covid-19/https://finshots.in/

Pandemi Corona memang sangat dahsyat menghantam perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Karena pandemi inilah kemudian banyak negara, termasuk Indonesia harus terjun ke jurang resesi. Pada 2 Maret 2021 yang lalu, tepat setahun ketika Presiden Jokowi mengkonfirmasi kasus Covid-19 pertama di Indonesia, perekonomian nasional ternyata tak kunjung pulih.

Belum pulihnya perekonomian nasional terlihat dari masih banyaknya sektor yang terdampak hingga babak belur. Bahkan beberapa sektor ekonomi yang mengalami imbas parah karena corona ini termasuk sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi RI. Nah berikut ini enam sektor yang paling babak belur dihantam corona dalam kurun waktu 1 tahun terakhir ini.

  1. Pariwisata

Sektor pertama yang paling mengalami keterpurukan akibat pandemi Covid-19 di Indonesia adalah pariwisata. Dengan penerapan kebijakan PSBB dan PPKM memang membuat masyarakat menjadi enggan bepergian untuk liburan. Hasilnya, sektor pariwisata yang terdiri dari beberapa bisnis seperti perhotelan dan transportasi pun mengalami penurunan omset yang sangat drastis.

“Ada sektor yang alami resesi semakin dalam misalnya bisnis perhotelan dan transportasi. Bukti hotel dijual murah karena pemilik tidak sanggup lagi menanggung biaya operasional ditengah okupansi kamar yang rendah jadi fenomena di seluruh daerah,” kata Bhima Yudhistira selaku Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Lebih lanjut Bhima menyatakan selain menjadi sektor yang paling parah, pariwisata juga dinilainya akan menjadi sektor yang paling lama pulihnya dari pandemi.

“Sektor pariwisata diperkirakan jadi sektor paling akhir yang pulih,” ujar Bhima.

Terdampaknya sektor pariwisata ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang tercatat hanya 141,3 ribu di Januari 2021. Ini artinya telah terjadi penurunan 13,90% dibandingkan Desember 2020 dan turun lebih dalam yaitu 89,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari penurunan kunjungan wisman ini membuat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang juga terdampak. Dari data yang sama, BPS mencatat pada Januari 2021, tercatat di level 30,35 atau turun 10,44 poin dibandingkan bulan Desember 2020 dan turun 18,82 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

  1. Makanan dan Minuman

Berikutnya, sektor yang paling babak belur dihantam pandemi Covid-19 adalah makanan dan minuman. Menurut Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, sektor makanan dan minuman mengikuti bisnis transportasi yang mengalami kontraksi akibat PSBB. Dalam catatannya dirinya menyebut bahwa sektor makanan dan minuman secara tahunan terkontraksi -10,22%.

“Penyedia akomodasi, makanan dan minuman serta transportasi karena dengan PSBB yang telah dijalankan pemerintah, sektor ini akhirnya harus menyesuaikan dalam menjalankan usaha. Maka tidak heran, kedua sektor ini merupakan dua di antara sektor yang mengalami kontraksi pertumbuhan cukup dalam, akomodasi, makanan dan minuman secara tahunan terkontraksi -10,22%, sementara transportasi mengalami kontraksi hingga -15%,” kata Yusuf.

Dalam catatan lain khususnya di bisnis restoran, dinyatakan bahwa selama pandemi telah ada 1.033 restoran yang tutup permanen hingga September 2020. Lalu menyusul 125-150 restoran hingga sekarang.

Empat Sektor Lain yang Paling Babak Belur Dihantam Pandemi

Selain sektor pariwisata serta makanan dan minuman, empat sektor berikut ini juga mengalami dampak yang parah karena pandemi.

  1. Meeting, Incentive, Conference, Exhibitions (MICE)

Di sektor ini ada catatan 96,43% acara di provinsi ditunda, 84,20% di batalkan.

  1. Mall dan Ritel

Selama pandemi disebutkan bahwa peritel merugi hingga Rp 200 triliun, omset turun hingga 50%.

  1. Bioskop

Bioskop hanya mendapatkan Rp 1,5-juta per hari. Padahal pengeluaran listrik Rp 70 juta, karyawan dan biaya operasional lain hingga Rp 150 juta per bulan/.

  1. Otomotif

Terakhir ada sektor otomotif yang mengalami penurunan omset drastis selama pandemi. Dalam data yang ada diketahui bahwa penjualan mobil di tahun 2020 tercatat turun hingga 48,35%.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang Menarik di Bulan Ini

To Top